Jumat, 14 Agustus 2026

Ketika Pendidikan Karakter Pulang ke Rumah: Peran Orang Tua dalam Kegiatan Pramuka

Ketika seorang anak mengikuti kegiatan Pramuka, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan karakter mereka?

Apakah cukup pembina yang mengajarkan disiplin, sekolah yang membuat aturan, dan kegiatan Pramuka yang memberi pengalaman? Atau ada bagian lain yang justru sangat menentukan, yaitu apa yang terjadi setelah anak pulang ke rumah?

Pertanyaan ini penting karena pendidikan karakter tidak berlangsung hanya beberapa jam di sekolah. Nilai yang dipelajari anak akan menjadi lebih bermakna ketika nilai tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang belajar bertanggung jawab di sekolah membutuhkan ruang untuk mempraktikkan tanggung jawab di rumah. Anak yang dilatih mandiri dalam kegiatan Pramuka juga perlu mendapatkan kepercayaan untuk melakukan berbagai hal secara mandiri dalam kehidupan keluarga.

Di sinilah peran orang tua menjadi penting. Pramuka memang dilaksanakan melalui kegiatan pendidikan di sekolah atau satuan pendidikan, tetapi pembentukan karakter peserta didik tidak dapat dibatasi oleh pagar sekolah.

Pramuka sebagai Ruang Pendidikan Karakter


Bagi sebagian orang, Pramuka mungkin masih identik dengan seragam cokelat, baris-berbaris, berkemah, tali-temali, semaphore, atau kegiatan di alam terbuka. Semua itu memang bagian dari pengalaman kepramukaan. Namun, jika dilihat lebih dalam, kegiatan tersebut hanyalah sarana.

Nilai pendidikan justru terletak pada proses yang dialami peserta didik.
Ketika seorang anak belajar menyiapkan perlengkapan sebelum kegiatan, ia sedang belajar bertanggung jawab. Ketika ia datang tepat waktu, ada disiplin yang sedang dibangun. Ketika ia harus menyelesaikan tugas bersama kelompok, ia belajar bekerja sama dan menghargai orang lain.

Demikian pula ketika peserta didik diberi kesempatan menjadi pemimpin regu. Ia belajar mengambil keputusan, berkomunikasi, menerima masukan, dan bertanggung jawab terhadap kelompoknya. Saat menghadapi kegiatan di luar ruangan, ia belajar berani menghadapi tantangan sekaligus memahami pentingnya menjaga keselamatan dan lingkungan.

Karena itu, Pramuka dapat menjadi ruang yang kaya untuk mengembangkan berbagai karakter: disiplin, tanggung jawab, kemandirian, kerja sama, kepemimpinan, kepedulian, keberanian, kemampuan mengambil keputusan, serta kecintaan terhadap lingkungan.

Namun, pengalaman tersebut tidak otomatis menjadi karakter hanya karena anak pernah mengikutinya.

Karakter tumbuh melalui proses yang berulang: memahami nilai, mengalami, membiasakan, kemudian menerapkannya dalam kehidupan nyata.
 

Ketika Nilai Pramuka Dibawa Pulang


Bayangkan seorang peserta didik yang selama kegiatan Pramuka dibiasakan datang tepat waktu. Pembina mengingatkan pentingnya menghargai waktu dan memulai kegiatan sesuai jadwal.

Namun, di rumah ia terbiasa bangun terlambat, menunda-nunda pekerjaan, atau selalu terburu-buru karena tidak memiliki kebiasaan mengatur waktu.

Bukan berarti pendidikan di sekolah gagal. Akan tetapi, pesan yang diterima anak menjadi kurang konsisten.

Sebaliknya, ketika kebiasaan tersebut diperkuat di rumah, proses pendidikan menjadi lebih utuh. Orang tua dapat membiasakan anak menyiapkan keperluan sekolah pada malam hari, bangun sesuai waktu yang telah disepakati, dan menyelesaikan tugas rumah tanpa harus selalu diingatkan.

Hal yang sama berlaku pada tanggung jawab.

Jika di Pramuka anak diberi tanggung jawab membawa perlengkapan kelompok, orang tua dapat memberikan tanggung jawab sederhana di rumah. Misalnya, merapikan tempat tidur, menjaga kebersihan kamar, membantu pekerjaan rumah, atau memastikan perlengkapan sekolahnya sudah siap.

Begitu pula dengan kemandirian. Anak tidak akan tumbuh mandiri jika setiap kesulitan selalu diselesaikan oleh orang dewasa.

Kadang-kadang, bentuk dukungan terbaik orang tua bukanlah membantu, melainkan memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba.

Tentu saja, memberikan ruang mandiri bukan berarti membiarkan anak tanpa pendampingan. Orang tua tetap perlu mengarahkan, mengawasi, dan memastikan anak berada dalam batas yang aman. Yang perlu dihindari adalah kebiasaan mengambil alih semua pekerjaan anak hanya karena dianggap lebih cepat atau lebih mudah.
 

Dukungan Orang Tua Tidak Harus Rumit


Dukungan terhadap kegiatan Pramuka tidak selalu membutuhkan biaya besar atau keterlibatan dalam setiap kegiatan sekolah.

Hal pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah memberikan izin dan dukungan dengan menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memiliki nilai pendidikan. Kalimat sederhana seperti, “Coba ikuti dengan sungguh-sungguh, ambil pengalaman sebanyak mungkin,” dapat memberikan makna positif bagi anak.

Orang tua juga dapat memastikan kebutuhan dasar kegiatan terpenuhi sesuai kemampuan keluarga. Perlengkapan tidak harus berlebihan. Yang lebih penting adalah anak belajar merawat, menggunakan, dan bertanggung jawab terhadap barang yang dimilikinya.

Dukungan berikutnya adalah menghargai proses.

Jangan hanya bertanya, “Dapat juara apa?” setelah anak mengikuti kegiatan. Sesekali tanyakan, “Apa yang kamu pelajari hari ini?”, “Apa kesulitanmu?”, atau “Apa hal yang paling kamu sukai?”

Pertanyaan seperti itu membantu anak memahami bahwa pengalaman dan proses belajar juga memiliki nilai.

Orang tua juga dapat menjadi teladan. Sulit mengajarkan disiplin kepada anak jika orang dewasa di sekitarnya sendiri tidak menghargai waktu. Sulit mengajarkan tanggung jawab jika anak melihat bahwa pekerjaan selalu dapat dialihkan kepada orang lain.

Pendidikan karakter sering kali lebih kuat melalui contoh daripada nasihat panjang.
 

Tantangan yang Perlu Dipahami Bersama


Dalam praktiknya, tidak semua orang tua langsung memiliki pandangan yang sama terhadap kegiatan Pramuka. Ada yang menganggapnya hanya kegiatan tambahan. Ada pula yang khawatir ketika anak harus mengikuti kegiatan luar ruangan, pulang lebih sore, atau mengikuti kegiatan di luar sekolah.

Kekhawatiran tersebut tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian.

Orang tua memiliki alasan, pengalaman, dan kondisi keluarga yang berbeda. Karena itu, sekolah dan pembina perlu membangun komunikasi yang baik. Jelaskan tujuan kegiatan, manfaat yang ingin dicapai, aspek keselamatan, kebutuhan peserta didik, serta bentuk pendampingan yang dilakukan.

Tantangan lain adalah keterbatasan waktu. Di tengah kesibukan keluarga, tidak semua orang tua dapat mendampingi setiap aktivitas anak. Karena itu, keterlibatan tidak harus selalu berbentuk kehadiran fisik.

Orang tua dapat terlibat melalui percakapan singkat, pemantauan kebiasaan anak, pemberian tanggung jawab di rumah, atau komunikasi dengan wali kelas dan pembina ketika diperlukan.

Gawai juga menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas digital sering kali lebih menarik bagi anak dibandingkan kegiatan yang membutuhkan gerak, interaksi langsung, dan kesabaran.

Namun, pendekatannya bukan sekadar melarang. Anak perlu dibantu memahami kapan gawai digunakan dan kapan ia perlu berinteraksi langsung, bekerja sama, bergerak, dan menyelesaikan tugas nyata.

Tantangan lainnya adalah sikap terlalu protektif. Keinginan orang tua untuk melindungi anak tentu merupakan hal yang wajar. Namun, perlindungan yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak belajar menghadapi masalah.

Anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba, salah, memperbaiki, dan belajar mengambil keputusan dengan pendampingan yang sesuai.
 

Sekolah, Pembina, dan Orang Tua: Satu Ekosistem Pendidikan


Pendidikan karakter akan lebih kuat ketika sekolah dan keluarga tidak mengirimkan pesan yang saling bertentangan.

Sederhananya dapat digambarkan demikian:

Sekolah memberikan pengalaman → Pembina memberikan keteladanan dan pembiasaan → Orang tua memperkuatnya di rumah → Peserta didik menerapkannya dalam kehidupan.

Sekolah memiliki peran menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik mengalami nilai-nilai karakter. Pembina berperan menghadirkan keteladanan, membimbing proses, dan memberikan pengalaman yang bermakna.

Sementara itu, keluarga menyediakan ruang yang sangat luas untuk mengulang dan menerapkan nilai tersebut.

Kolaborasi juga tidak harus selalu dalam bentuk program besar. Komunikasi sederhana antara pembina dan orang tua dapat menjadi awal yang baik.

Misalnya, setelah kegiatan tertentu, pembina menyampaikan nilai yang sedang ditekankan. Orang tua kemudian membantu anak mempraktikkan nilai tersebut di rumah.

Dengan pola seperti ini, kegiatan Pramuka tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari ekosistem pendidikan karakter yang saling terhubung.

Ada banyak praktik sederhana yang dapat menghubungkan kegiatan Pramuka dengan kehidupan keluarga.

Salah satunya adalah tantangan disiplin selama satu minggu. Peserta didik dapat memilih satu kebiasaan, seperti bangun tepat waktu, menyiapkan perlengkapan sendiri, atau menyelesaikan tugas sesuai jadwal. Orang tua tidak perlu menjadi “pengawas”, tetapi cukup menjadi pendamping dan memberikan penguatan.

Contoh lain adalah tugas membantu orang tua di rumah. Peserta didik dapat memilih pekerjaan yang sesuai usia, seperti menyapu, mencuci peralatan makan, merapikan kamar, atau membantu menyiapkan kebutuhan keluarga.

Ada pula kegiatan peduli lingkungan keluarga. Anak bersama orang tua dapat memilah sampah, merawat tanaman, menghemat air, atau menjaga kebersihan lingkungan rumah. Nilai cinta lingkungan yang diperoleh dalam kegiatan Pramuka kemudian memiliki bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Jurnal refleksi juga dapat digunakan. Setelah mengikuti kegiatan, anak menuliskan satu hal yang dipelajari, satu kesulitan yang dihadapi, dan satu kebiasaan yang ingin diterapkan di rumah.

Bahkan kebiasaan sederhana seperti menyiapkan perlengkapan sendiri sudah dapat menjadi latihan karakter. Anak belajar membuat daftar kebutuhan, memeriksa barang, dan memastikan tidak ada perlengkapan yang tertinggal.

Kegiatan-kegiatan tersebut tidak perlu dibuat sebagai beban tambahan. Justru kekuatannya terletak pada kesederhanaan dan konsistensi.
 

Karakter Tidak Berhenti di Lapangan Pramuka


Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan kepramukaan tidak semestinya hanya diukur dari seberapa rapi peserta didik berbaris, seberapa lengkap mereka menguasai keterampilan kepramukaan, atau seberapa banyak kegiatan yang mereka ikuti.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang berubah dalam diri mereka setelah mengikuti kegiatan tersebut?

Apakah mereka menjadi lebih bertanggung jawab? Apakah mereka mulai mampu mengatur dirinya sendiri? Apakah mereka lebih peduli terhadap orang lain dan lingkungan? Apakah mereka berani mengambil keputusan dan bersedia menerima konsekuensi dari pilihannya?

Jika nilai-nilai tersebut hanya muncul ketika mengenakan seragam Pramuka, berarti masih ada pekerjaan pendidikan yang perlu dilanjutkan.

Sebaliknya, jika kedisiplinan terlihat ketika di sekolah dan di rumah, jika tanggung jawab muncul tanpa harus selalu diperintah, jika kemandirian tumbuh dalam keseharian, maka pengalaman kepramukaan telah bergerak lebih jauh dari sekadar kegiatan.

Di situlah pentingnya peran orang tua.

Pramuka mungkin berlangsung di sekolah, di lapangan, di bumi perkemahan, atau di alam terbuka. Namun, karakter yang dibangun melalui pengalaman itu seharusnya ikut pulang bersama peserta didik.

Sekolah memberikan pengalaman. Pembina membimbing dan memberi teladan. Keluarga menguatkan melalui kebiasaan sehari-hari. Anak kemudian belajar membawa nilai tersebut ke dalam kehidupannya.

Karena itu, Pramuka bukan hanya urusan sekolah. Ia adalah salah satu bagian dari perjalanan panjang pendidikan seorang anak—dan perjalanan itu akan jauh lebih kuat ketika sekolah dan keluarga berjalan dalam arah yang sama.

Pesan Utama:
Nilai-nilai karakter yang dipelajari melalui Pramuka akan menjadi lebih bermakna ketika sekolah menanamkannya, pembina meneladaninya, dan keluarga membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.

#Selamat Hari Pramuka Ke-65
#Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan
#Salam Pramuka

Senin, 05 Januari 2026

Rumah Pendidikan dan Eksplorasi Ruang Murid: Menguatkan Pembelajaran dari Sekolah, untuk Masa Depan

Transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau perubahan yang serba instan. Justru, perubahan paling bermakna sering lahir dari ruang-ruang kecil: dari diskusi sederhana antarguru, dari keberanian mencoba hal baru, dan dari komitmen untuk terus belajar bersama. Berangkat dari semangat inilah, saya melaksanakan kegiatan Sosialisasi Rumah Pendidikan dengan fokus pada eksplorasi Ruang Murid, yang dilaksanakan di unit kerja sendiri sebagai bentuk penguatan komunitas belajar terdekat.

Rumah Pendidikan: Satu Pintu Ekosistem Pembelajaran Digital

Rumah Pendidikan hadir sebagai sebuah ekosistem pembelajaran digital yang dirancang untuk menjawab tantangan pendidikan di era transformasi digital. Platform ini bukan sekadar kumpulan aplikasi, melainkan sebuah rumah bersama yang mengintegrasikan berbagai layanan pendidikan—mulai dari sumber belajar, asesmen, pengembangan kompetensi guru, hingga ruang eksplorasi bagi murid.

Melalui Rumah Pendidikan, guru dan murid memiliki akses yang lebih luas terhadap pembelajaran yang fleksibel, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Semua dirancang agar pembelajaran tidak lagi terbatas oleh ruang kelas dan waktu tatap muka semata, tetapi dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja.

Dalam konteks ini, peran guru menjadi semakin strategis. Guru tidak digantikan oleh teknologi, justru diperkuat. Guru menjadi pendamping, fasilitator, dan pengarah agar pemanfaatan teknologi benar-benar berdampak pada kualitas belajar murid.

Eksplorasi Ruang Murid: Membuka Akses Belajar Mandiri dan Bermakna

Salah satu bagian penting dari Rumah Pendidikan adalah Ruang Murid. Pada kegiatan sosialisasi ini, eksplorasi Ruang Murid menjadi fokus utama, agar para guru dapat memahami fitur-fiturnya secara utuh dan mampu menyampaikannya kembali kepada murid.

Ruang Murid menyediakan beragam fitur pembelajaran yang mendorong murid untuk:
  • belajar secara mandiri sesuai minat dan kebutuhannya,
  • berlatih menjadi pembelajar yang aktif dan bertanggung jawab,
  • serta mengembangkan kebiasaan belajar yang bermakna dan berkelanjutan.
Melalui Ruang Murid, murid memiliki “ruang aman” untuk bertumbuh, bereksplorasi, mencoba, dan belajar tanpa takut salah. Pembelajaran tidak lagi hanya berpusat pada guru, tetapi memberi kesempatan kepada murid untuk menjadi subjek utama dalam proses belajarnya.

Penguatan Komunitas Belajar dari Lingkungan Terdekat

Kegiatan ini sengaja dilaksanakan di unit kerja sendiri sebagai bentuk nyata penguatan komunitas belajar di lingkungan terdekat. Guru belajar bersama guru, saling berbagi pengalaman, dan saling menguatkan dalam menghadapi perubahan. Karena sejatinya, transformasi pendidikan akan lebih berkelanjutan jika tumbuh dari kesadaran kolektif, bukan karena paksaan.

Melalui diskusi dan praktik langsung, para guru diajak untuk tidak hanya mengenal Rumah Pendidikan secara teknis, tetapi juga memahami nilai dan filosofi di balik pemanfaatannya: bahwa pembelajaran harus berpihak pada murid dan menyiapkan mereka menghadapi masa depan yang terus berubah.

Motivasi untuk Guru: Terus Belajar, Terus Bertumbuh

Perubahan zaman menuntut guru untuk terus belajar dan beradaptasi. Guru yang mau berkembang adalah kunci lahirnya murid-murid yang siap menghadapi tantangan masa depan. Digitalisasi bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk memperluas dampak pembelajaran.

Rumah Pendidikan hadir sebagai mitra guru—memberi dukungan, sumber daya, dan ruang pengembangan diri. Ketika guru mau membuka diri terhadap pembaruan, maka murid pun akan melihat contoh nyata tentang bagaimana menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Mengajak Murid Mengenal Ruang Belajarnya Sendiri

Sebagai guru, kita memiliki peran penting untuk menyampaikan kepada murid bahwa mereka memiliki ruang belajar milik mereka sendiri. Ruang untuk mencoba, bertanya, dan berkembang sesuai zamannya. Dengan pendampingan yang tepat, murid dapat memanfaatkan fitur-fitur di Ruang Murid tidak hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi untuk membangun kemandirian dan rasa ingin tahu.

Belajar tidak lagi berhenti di ruang kelas. Belajar ada di genggaman, dan guru hadir untuk memastikan proses itu tetap bermakna, terarah, dan bernilai.

Mari kita terus bergerak bersama, belajar bersama, dan bertumbuh bersama. Dari sekolah, dari komunitas kecil, dari langkah sederhana yang konsisten. Karena perubahan besar dalam pendidikan selalu berawal dari guru-guru yang mau belajar dan murid-murid yang diberi ruang untuk berkembang.

Rabu, 19 November 2025

Menguatkan Pembelajaran Melalui Koding & Kecerdasan Artifisial: Cerita dari IHT SMKN 2 Kandangan

Pada tanggal 17 s.d. 18 November 2025, SMKN 2 Kandangan kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui kegiatan In House Training (IHT), sekolah mengangkat topik penting: Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) serta penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) dalam proses belajar mengajar.

Sejak sesi pertama dimulai, suasana pelatihan sudah terasa hidup. Para guru menunjukkan antusiasme yang luar biasa—bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman. KKA memang masih menjadi materi baru bagi sebagian guru, namun semangat untuk belajar hal baru menjadikan setiap sesi terasa mengalir dan menyenangkan.

Dalam kesempatan ini, saya dipercaya menjadi salah satu narasumber. Saya berbagi tentang bagaimana koding dapat dijadikan pintu masuk untuk melatih logika dan kreativitas murid, serta bagaimana kecerdasan artifisial bisa dimanfaatkan untuk membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih personal, efisien, dan bermakna. Kami juga membahas bagaimana konsep pembelajaran mendalam dapat membantu guru menggali potensi murid secara lebih mendalam, bukan sekadar mengejar penyelesaian materi.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah semangat kolaborasi para guru. Tidak ada rasa sungkan untuk bertanya, tidak ada keengganan untuk mencoba, dan tidak ada batas antar-mata pelajaran. Semua menyatu dalam tujuan yang sama: memperbaiki kualitas pembelajaran bagi murid.

Refleksi: Ketika Guru Siap Berubah, Sekolah Siap Maju

Menjadi narasumber sekaligus bagian dari proses belajar ini membuat saya semakin menyadari bahwa transformasi pendidikan dimulai dari guru. Tantangan terbesar bukan pada teknologi yang rumit, tetapi pada keberanian kita untuk membuka diri terhadap cara-cara baru.

Koding dan Kecerdasan Artifisial bukan lagi sekadar tren—keduanya sudah menjadi kebutuhan. Namun pemahaman dan penerapannya tidak harus selalu sulit. Ketika guru saling mendukung, berbagi praktik baik, dan melihat teknologi sebagai peluang, maka perubahan akan berjalan lebih mudah dan berdampak.

Saya pulang dari kegiatan ini dengan perasaan optimis. Jika semangat ini terus dijaga, maka SMKN 2 Kandangan tidak hanya siap mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga siap menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.

Pesan Motivasi: Guru Hebat, Indonesia Kuat

Untuk seluruh guru yang mengikuti IHT ini, izinkan saya menyampaikan satu pesan:
Setiap langkah kecil dalam belajar, sekecil apa pun, adalah bagian dari perubahan besar dalam pendidikan.

Jangan takut pada teknologi. Jadikan ia sebagai alat untuk memperkuat kreativitas mengajar Anda. Cobalah hal baru, evaluasi, lalu perbaiki. Tidak ada proses belajar yang sia-sia.

Ingatlah, ketika guru bergerak, sekolah berubah.
Ketika guru bertransformasi, masa depan peserta didik terbentuk.
Dan ketika guru terus belajar, Indonesia menjadi lebih kuat.



Sabtu, 04 Januari 2025

WUJUDKAN CERIA, demi masa depan berkelanjutan

Alhamdulillah, SMK Negeri 2 Kandangan berhasil meraih hibah dalam program KPP Mining Youth in Action pada kategori tenaga kependidikan SMA/SMK. Prestasi ini merupakan hasil kerja keras dan komitmen dari seluruh tim yang terlibat, termasuk guru, tenaga kependidikan, dan mitra pendukung yang telah mendukung penyusunan proposal dengan sepenuh hati.

Sebagai wujud tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan, SMK Negeri 2 Kandangan berkomitmen untuk melaksanakan kegiatan ini secara maksimal. Dengan membawa semangat inovasi dan kolaborasi, sekolah akan memastikan bahwa program ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga dampak berkelanjutan bagi pengembangan kompetensi siswa dan tenaga kependidikan.
Saat ini, tim penyusun langsung bergerak ke tahap persiapan. Tahap ini melibatkan berbagai kegiatan penting, seperti penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan, penyiapan fasilitas pendukung, pengaturan jadwal pelatihan, hingga komunikasi dengan pihak terkait. Semua langkah ini dilakukan dengan penuh dedikasi untuk memastikan bahwa program berjalan lancar dan sesuai dengan tujuan yang telah dirancang.

Melalui program ini, SMK Negeri 2 Kandangan berharap dapat memperkuat peran sekolah dalam mencetak generasi muda yang kompeten, kreatif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. Semoga kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk terus berinovasi dalam menciptakan program-program unggulan.

Terima kasih atas dukungan semua pihak, dan semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal untuk pencapaian yang lebih besar di masa mendatang.

#SMKBisa
#SMKHebat
#SMKN2KandanganJuara


Senin, 02 Desember 2024

CERIA (Cerdas Kelola Sampah untuk Lingkungan Asri)

SMK Negeri 2 Kandangan berpartisipasi dalam kegiatan KPP Mining Youth in Action. KPP Mining Youth in Action ini merupakan kompetisi untuk ide-ide yang benar-benar berkontribusi pada pembangunan berkelajutan dengan tema pendidikan, kesehatan, lingkungan dan kewirausahan. 

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebagai institusi pendidikan vokasi, tidak hanya bertugas untuk memberikan pembelajaran formal, tetapi juga membentuk kebiasaan baik. Sejalan dengan Visi dan Misi SMK Negeri 2 Kandangan untuk membentuk karakter peserta didik yang peduli lingkungan. Namun, permasalahan yang muncul saat ini adalah rendahnya kesadaran peserta didik dalam membuang, memilah dan mengelola sampah, baik sampah organik maupun non-organik.

Saat ini peserta didik masih terbiasa membuang sampah tidak pada tempatnya, sehingga menyulitkan dalam pengelolaan sampah dan membuat lingkungan sekolah tidak bersih. Hal ini tidak hanya meningkatkan volume sampah yang mencemari lingkungan, tetapi juga menunjukkan kurangnya pemahaman peserta didik mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik.

Sampah non organik seperti plastik, sebagai salah satu jenis sampah yang paling sulit terurai, menjadi ancaman serius bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan tepat. Di sisi lain, sampah organik seperti sisa makanan atau bahan organik lainnya, sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk kompos atau keperluan lain yang lebih bermanfaat. Rendahnya kesadaran dan pengetahuan peserta didik dalam hal ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk memberikan edukasi yang sistematis dan berkelanjutan mengenai pemilahan dan pengelolaan .

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran peserta didik dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih bersih dan sehat, diperlukan kegiatan edukasi yang dapat memberikan pemahaman praktis dan membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah. Melalui kegiatan ini, peserta didik tidak hanya belajar tentang pentingnya memilah sampah, tetapi juga memahami nilai keberlanjutan lingkungan, serta menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Dengan demikian, program edukasi pemilahan dan pengelolaan sampah yaitu CERIA (Cerdas Kelola Sampah untuk Lingkungan Asri) ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengelolaan sampah yang dapat menciptakan lingkungan asri di SMK Negeri 2 Kandangan.

Kamis, 16 Maret 2023

Buku Naik Pangkat

Pertemuan keduapuluh lima

Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI
Gelombang ke-28

Pemateri: Dr. Imron Rosidi, M.Pd
Moderator: Yandri Novitas Sari, S.Pd
Tema: Poin Buku pada Kenaikan Pangkat PNS
Senin/06 Maret 2023

Buku merupakan hasil karya guru dalam bentuk tulisan. Banyak manfaat dari menulis buku, selain dari menyalurkan hobi, membuat pikiran tenang juga bisa digunakan mendapatkan angka kredit untuk naik pangkat. Buku seperti apa yang dapat digunakan untuk naik pangkat tersebut? Nara sumber yang luar biasa pengarang buku berjudul Bergerilya menjadi penulis yaitu Dr. Imron Rosidi, M.Pd., akan memaparkan tentang hal tersebut.

Kamis, 09 Maret 2023

Biografi Vs Autobiografi

Pertemuan keduapuluh empat
Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI
Gelombang ke-28

Pemateri: Lely Suryani, S.Pd.SD
Moderator: Muliadi, M.Pd

Tema: Menulis Biografi
Jum’at/03 Maret 2023

Kita dapat belajar banyak tentang kehidupan seseorang dengan membaca buku-buku mereka atau buku-buku yang ditulis oleh orang lain, terlepas dari siapa yang menulis buku tersebut. Biografi adalah catatan kehidupan orang lain, sedangkan autobiografi adalah catatan kehidupan seseorang. Kita dapat mendengarkan penjelasan narasumber berikut ini tentang biografi dan otobiografi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang istilah-istilah tersebut.

Minggu, 05 Maret 2023

Menerbitkan Buku melaui Penerbit Indie

Pertemuan keduapuluh tiga
Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI
Gelombang ke-28

Pemateri: Raimundus Brian Prasetyawan
Moderator: Nur Dwi Yanti, S.Pd

Tema: Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indi
Rabu/01 Maret 2023

Setelah draft buku kita selesai ditulis, tentu saja kita ingin menerbitkannya. Ada dua penerbit yang bisa kita hubungi yaitu penerbit indi atau penerbit mayor. Apa yang dimaksud dengan penerbit indie dan penerbit mayor dan bagaimana cara mudah untuk menerbitkan buku? Pertanyaan tersebut akan dikupas oleh Bapak Raimundus Brian Prasetyawan atau yang dikenal juga dengan Om Ian.

Selasa, 28 Februari 2023

Majalah Suara Guru

Resume keduapuluh dua

Kelas Menulis Gelombang Ke-28
Senin, 27 Februari 2023
Tema: Mengirim tulisan ke majalah suara guru
Narasumber: Catur Nurrochman Oktavian, M.Pd.
Moderator: Sim Chung Wei, S.P.

Bapak Catur Nurrochman Oktavian, M.Pd adalah guru di SMPN 1 Kemang Bogor yang merupakan Wakil Bendahara Pengurus Besar PGRI. Beliau adalah seorang guru yang berdedikasi tinggi dan sangat aktif menulis, beliau sudah menerbitkan lebih dari 20 buku, salah satu judul buku beliau adalah jangan dibaca: jika tidak ingin menulis. Beliau juga merupakan redaktur pelaksana Majalah Suara Guru PB PGRI. Berikut paparan beliau mengenai majalah suara guru. 

Minggu, 26 Februari 2023

Mulai Menulis Mencapai Prestasi

Pertemuan keduapuluh satu
Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI
Gelombang ke-28

Pemateri: Rita Wati, S.Kom
Moderator Helwiyah, S.Pd., M.M.

Tema: Melejitkan Prestasi dengan Menulis
Senin/20 Februari 2023

Semua orang ingin berpretasi. Berprestasi merupakan salah satu dari lima kebutuhan dasar manusia. Jika seseorag berprestasi berarti dia telah menorehkan tinta emas dalam kehidupan. Prestasi dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Prestasi bisa diraih jika seseorang berusaha untuk meraihnya atau dengan kata lain, jika kita berusaha, kita bisa berhasil. Prestasi juga bisa didapatkan melalui cara apa saja sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.

Jumat, 24 Februari 2023

Strategi Memasarkan Buku

Pertemuan keduapuluh
Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI
Gelombang ke-28

Pemateri: Agus Subardana, S.E., M.M.
Moderator Purbaniasita KS, S.Pd

Tema: Pemasaran Buku
Rabu/22 Februari 2023

Setiap penulis tentu ingin bukunya diterbitkan setelah selesai di tulis. Setelah terbit tentunya kita ingin memasarkan buku tersebut agar bisa disajikan kepada para pembaca. Bagaimana agar buku tersebut laku dipasaran, tentunya ada strategi khusus yang harus dilakukan. Berikut akan kita simak pemaparan tentang bagaimana strategi memasarkan buku.

Selasa, 21 Februari 2023

Buku Ajar, Karya Guru

Pertemuan kesembilanbelas
Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI
Gelombang ke-28

Pemateri: Mudafiatun Isriah, M.Pd
Moderator Mutmainah

Tema: Menulis Buku Ajar
Senin/20 Februari 2023

Buku ajar bukanlah hal yang asing bagi guru. Buku ajar membantu kita dalam melaksanakan pembelajaran dan merupakan salah satu sumber atau referensi kita dalam mengajar. Buku ajar juga dapat dijadikan acuan dalam mengajar. Apa sebenarnya buku ajar tersebut? Apa bedanya dengan bahan ajar? Materi tersebut akan dipaparkan oleh narasumber berikut ini.

Minggu, 19 Februari 2023

Diksi, Indah dan Menghanyutkan

Pertemuan kedelapanbelas
Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI
Gelombang ke-28

Pemateri: Maesaroh, M.Pd (Maydearly)
Moderator Widya Arema

Tema: Diksi dan Seni Bahasa
Jum’at/17 Februari 2023

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan diksi sebagai tindakan memilih kata yang tepat untuk menyampaikan ide atau gagasan di mana tindakan pemilihan kata tersebut dilakukan untuk menyampaikan maksud dan tujuan dari suatu gagasan. Diksi yang saya kenal sejauh ini adalah kumpulan kata-kata yang indah dan mendalam yang dapat membuai dan membuat kita terhanyut saat membaca. Apakah sebenarnya diksi itu?

Jumat, 17 Februari 2023

Menulis Puisi Harapanku

Pertemuan ketujuhbelas
Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI
Gelombang ke-28

Pemateri: Dr.Hj. E. Hasanah, M.Pd.
Moderator: Sim Chung Wei
Tema: Menulis Puisi
Rabu/15 Februari 2023

Puisi merupakan alat atau media yang dapat digunakan untuk mengungkapkan perasaan, menyampaikan maksud serta tujuan dari sesuatu yang kita inginkan. Keindahan diksi dan iramanya membuat kita sering terbuai dan dapat memahami makna yang terkandung didalamnya secara mendalam serta merasakan emosional yang luar biasa. 

Rabu, 15 Februari 2023

Benar atau salahkah keputusanku?

Guru merupakan seorang pemimpin pembelajaran. Kita sering berada dalam situasi dimana kita harus mengambil keputusan dari suatu permasalahan. Apabila kita harus mengambil keputusan dari suatu permasalahan yang benar dan salah maka itu termasuk dalam bujukan moral. Namun jika kita harus mengambil keputusan dari suatu permasalahan yang sama-sama benar maka sesungguhnya kita berada dalam dilema etika.

Selasa, 14 Februari 2023

Mengenal Buku Digital

Pertemuan keenambelas
Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI
Gelombang ke-28

Pemateri: Nur Dwi Yanti, S.Pd
Moderator Dail Ma’ruf, M.Pd
Tema: Buku Cerita Digital
Senin/13 Februari 2023

Mayoritas buku yang kita gunakan adalah buku cetak, namun di zaman modern ini, banyak buku juga dapat ditemukan dalam bentuk soft copy atau file yang dikenal sebagai buku elektronik. Ibu Nur Dwi Yanti, S.Pd, Narasumber yang luar biasa, akan memamaparkan mengenai hal tersebut.

Buku elektronik atau softcopy disebut sebagai "buku digital", dan dapat dibaca di komputer dan ponsel dengan memanfaatkan teknologi digital (PC dan laptop). Contoh pdf dari buku pembelajaran. E-book sering disebut sebagai buku virtual atau buku tanpa kertas. E-book, yang sering dikenal sebagai buku digital atau buku elektronik, adalah versi digital dari buku cetak.

Buku digital, menurut Kamus Bahasa Inggris Oxford, sebenarnya dibuat dengan mendigitalkan buku cetak, yang kemudian diubah menjadi ebook yang dapat dibaca menggunakan komputer atau ponsel.

Buku digital berfungsi sebagai salah satu alternatif media belajar dan juga sebagai media informasi. Adapun tujuan dibuatnya buku digital adalah untuk memberikan kesempatan bagi pembuat konten untuk berbagi informasi dengan mudah dengan cara yang menarik dan interaktif. Juga untuk melindungi informasi yang disampaikan dan mempermudah prooses memahami materi ajar.

Kelebihan buku digital

  1. Lebih praktis karena hanya dengan membawa handphone atau komputer maka semua file dan ratusan bahkan ribuan judul buku bisa didapatkan
  2. Lebih efisien
  3. Dapat diakses di mana saja
  4. File tersimpan di memori handphone ataupun komputer sehingga tidak memerlukan lemari dan ruang penyimpanan
  5. Ramah lingkungan, buku digital tidak perlu dicetak sehingga mengurangi penggunaan kertas,
  6. Kustomisasi karena tampilan komputer atau ponsel dapat disesuaikan dengan keadaan yang diinginkan, tinggal klik dan geser.
  7. Harga lebih murah, karena mengurangi biaya untuk produksi maka harganya lebih murah dibandingkan dengan buku cetak.
Kekurangan buku digital
  1. Bisa menyebabkan mata Lelah atau radiasi mata
  2. Membutuhkan daya listrik, gawai dan perangkat elektronik yang digunakan membutuhkan energi listrik sehingga apabila baterai habis ataupun tidak ada sumber listrik maka kita tidak dapat mengaksesnya
  3. Terkadang membutuhkan kuota dan layanan internet lainnya
  4. Mudah terdistraksi, pada saat membaca buka elektronik, maka perhatian kita mudah teralihkan dengan aplikasi ataupun tampilan lainnya.
  5. Resiko hilang, terhapus dan kena virus
Jenis-jenis format buku digital
  1. EPUB- Electronic Publicatioan, suatu format yang didefinisikan oleh forum open digital book dari international digital publishing forum (IDPF) mengacu pada XHTML dan XML. Hal itu merupakan standar yang berkembang. Spesifikasi ePub ini dapat dijumpai dari situs IDPF. Adobe, Barnes & Nobie, Apple yang semuanya memiliki DRM sendiri. Untuk versi terbaru yaitu ePub 3 tidak digunakan secara luas.
  2. MOBi-Mobi Pocket format yang dapat digunakan oleh hampir semua PDA dan Smartphone dalam PC Windows, Mobi Pocket dapat melakukan konversi file chm, doc, html, ocf, pdf, rtf dan txt.
  3. PDB Palm database file, format yang memuat beberapa format buku digital berbeda untuk ditujukan ke perangkat berbasis system operasi polm yang disebut PolmDoc
  4. PDF portable document format, diciptakan oleh adobe dalam produk acrobat yang digunakan dalam pertukaran dokumen. Format tersebut didukung oleh semua platform komputer dan perangkat smartphone. Walaupun demikian, terdapat beberapa perangkat yang bermasalah menggunakan format ini karena ukuran layer yang tidak sesuai dengan format pdf
  5. KF8-Kindle Fire Format, format yang hampir sama denganePub yang disusun dalam PDB dengan DRM Amazon
Beberapa aplikasi dan buku digital berbasis web: Cerita anak_Direktorat Sekolah dasar, Leguty Media, google play book, amazon kindle, ipusnas dan lain-lain

Aplikasi pemformatan buku digital:
  1. Sigil merupakan sebuah software editor untu EPUB (Electronicpublication) yang bersifat open source https://sigil-ebook.com
  2. Scribus. Aplikasi ini juga sudah banyak digunakan di berbagai OS komputer https://www.scribus.net/downloads
  3. Aplikasi pengolah kata yaotu Libre Office atau MS Office atau google doc
  4. Aplikasi pengolah gambar yaitu IbisPaint atau Adobe Photoshop
  5. Aplikasi audio editor yaitu Audacity/fomra factory
  6. Aplikasi video editor yaitu Avidemux/format factory
Guru merupakan sosok yang akan ditiru, guru sebagai model yang akan menjadi figur, daya pandang siswa tak terukur karena melihat sosok guru idaman. Torehan guru menjadi prasasti bagi siswa, maka lantas guru mau seenaknya tanpa harus menjawab kebutuhan siswa yang sesungguhnya?? sungguh tidak manusiawi jika seorang tidak merancang pembelajaran yang sesuai kebutuan siswa. Oleh karena itu marilah kita menjadi seorang guru yang memiliki komitmen untuk menghargai diri sendiri sebagai seorang yang sangat ditunggu siswa. jadilah guru yang kreatif, desain lah pembelajaran yang menarik, buatlah buku sebagai hasil karya guru yang di tunggu (NDY, 2023).

Kita bisa belajar membuat buku digital melalui aplikasi-aplikasi yang sederhana seperti Microsoft word, powerpoint dan canva. Komitmen guru dan kreativitas gurulah yang akan membuat karya tersebut menjadi indah dan bermakna.

Minggu, 12 Februari 2023

CLBK Dulu, Baru Menulis

Resume Kelimabelas

Kelas Menulis Gelombang Ke-28
Jum'at, 10 Februari 2023

Tema: Langkah Menyusun Buku secara Sistematis
Narasumber : Yulius Roma Patandean, S.Pd
Moderator : Arfiah Afifi, S.Pd

"Saat-saat yang paling menakutkan dalam menulis adalah tepat ketika kamu belum memulainya." (Stephen King)

Menulis rangkaian kata yang bermakna satu demi satu kata akan membuat karya yang luar biasa. Kalimat yang menginspirasi di atas sangat tajam dan menghunjam sanubari karena kenyataannya, memulai menulislah yang teramat sulit. Perjalanan yang panjang dimulai dari langkah-langkah yang dimulai dari satu langkah. Menulis buku, juga dimulai dari kata demi kata yang dimulai dari satu kata pertama.

Manfaat menulis buku menurut rangkuman Ibu Afifi yaitu salah satu sarana untuk memberikan apresiasi pada diri sendiri atas hasil karya yang telah selesai dibuat, artinya kita pantas menghargai diri kita sendiri. Sebagai personal branding, sehingga memberi motivasi diri untuk lebih berkarya. Juga memberi manfaat kepada orang banyak.Sebagai bukti sejarah bawa kita pernah hidup di dunia ini Sehingga kita akan semakin sungguh-sungguh dengan membuat dan menyusun buku secara sistematis.

Narasumber luar biasa Bapak Yulius Roma Patandean, S.Pd, guru Bahasa Inggris di SMAN 5 Tana Toraja. Beliau adalah penulis dan editor profesional, dengan menyandang kelulusan ujian sertifikasi lewat skema sertifikasi penulisan buku non fiksi. Beliau lahir di Salubarani, Tana Toraja, 6 Juli 1984.

Beliau menyelesaikan jenjang S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Kristen Indonesia Toraja (2003-2007) dan melanjutkan pendidikan S2 di Institut Agama Kristen Negeri Toraja. Beliau pernah menjadi pengajar tidak tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia Toraja dan merupakan tutor Universitas Terbuka dan Fasilitator Belajar Yayasan Trampil Indonesia.

Prestasi yang pernah diraihnya adalah guru berprestasi jenjang SMA Kabupaten Tana Toraja tahun 2016, pemenang ketiga lomba kreatifitas guru tingkat SMA pada Porseni PGRI Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017, meraih dua medali emas dan tiga medali perunggu pada ajang Gurulympics PGRI tahun 2020. Profil beliau dapat dilihat di link berikut ini. https://romadean.blogspot.com/2021/01/profil.html. Narasumber yang luar biasa ini akan membahas tentang akan membahas tentang langkah menyusun buku secara sistematis

Langkah menulis buku secara sistematis

Pak Roma menyatakan bahwa menulis adalah sesuatu yang unik ketika baru dimulai apalagi kalau belum terbiasa dan ternyata menulis adalah sesuatu yang membuat ketagihan. Menulis harus dibiasakan setiap hari. Semua hal bisa jadi bahan tulisan. Apa yang dilihat, dirasakan, dibayangkan dan bahkan dialami bisa dituliskan. Jika khawatir ide di kepala mudah hilang, maka tuliskan ide melalui blog.

Pada tahun 2020, Pak Roma menerbitkan buku solo pertama yang berjudul Guru Menulis Guru Berkarya dimana kontennya adalah materi-materi yang disampaikan para narasumber di Grup WA. Setelah mengikuti beberapa pertemuan dalam grup belajar menulis, akhirnya beliau bertemu dengan tokoh pendidikan dan teknologi yang membuka wawasan beliau tentang menulis yaitu Prof. Richardus Eko Indrajit. Dalam materinya, Prof Indrajit menantang peserta untuk menulis dalam waktu satu minggu dan pak Yulius berhasil menjawab tantangan tersebut dengan menerbitkan buku yang berjudul digital transformation dari penerbit mayor (Penerbit Andi). Buku tersebut dapat diperoleh di toko Gramedia dan juga berbagai toko online. Tantangan kedua dari Prof Indrajit juga berhasil beliau taklukkan sehingga terbit lagi buku berikutnya yaitu Flip Classroom.

Penyusunan dan pengeditan buku yang beliau buat dipelajari secara otodidak dan dilakukan dengan Micoosoft Word tanpa aplikasi tambahan meskipun ada aplikasi lain yang bisa digunakan yaitu Zotero dan Mendeley yang popular di kalangan mahasiswa dan akademisi. Adapun tutorial sederhana tentang cara membuat tulisan naskah buku sistematis.cara membuat daftar isi, kutipan, indeks, dan daftar Pustaka otomatis dapat dilihat di https://youtu.be/eePQwyHAcjw, membuat indeks pada tulisan ada di link https://youtu.be/mS8bfNZT-rA dan cara membuat judul, bab, sub judul tulisan pada buku secara otomatis ada di link https://youtu.be/jXPr59aWJSc

Agar bisa menulis dengan sistematik cobalah mempraktekkan membuat settingan Judul, Bab hingga menyisipkan sumber tulisan menggunakan fasilitas yang ada di Ms Word. #Jika masih ragu-ragu, maka COBAlah. Menulis, menyusun dan mengedit naskah buku tidak bisa menjadi ala bisa karena biasa semata tanpa ada per COBA an. Dengan mencoba, maka akan timbul rasa penasaran untuk menjalaninya. Ada pahit, manis, asam, asin, kecewa dan bahagia kala mencoba. Percobaan mendorong kita untuk berbuat lebih untuk menjawab rasa penasaran. Pertanyaannya, apakah sekedar selesai mencoba atau mau melanjutkan?

Jika hendak melanjutkan, maka LAKUKAN dengan segera. Praktekkan sekaligus, biarkan mengalir bersama jari-jari mungil teman-teman. Melakukan proses lebih dalam menulis membutuhkan dorongan lebih pula. Tidak hanya dorongan untuk membuat tulisan, yang lebih utama adalah niat menghilangkan rasa penasaran di pikiran. Penasaran tentang apa yang akan saya tulis, susun dan terbitkan.

Ketika Menulis harus menjadi sebuah budaya. Maka, BUDAYAKAN! bersama dengan praktek menyusun dan mengedit naskah. Menghasilkan sebuah karya tulisan sederhana tidak bisa tercapai dengan maksimal jika didorong oleh paksaan. Membudayakan menulis adalah proses menuju karya.

KONSISTEN adalah langkah pamungkas dalam teori menulis, menyusun dan mengedit naskah yang selama ini saya lakukan. Budaya menulis yang baik adalah ketika kita menjadi konsisten dalam mempraktekkannya. Kesimpulannya adalah bahwa kita harus melakukan CLBK (Coba, Lakukan, Budayakan dan Konsisten) untuk bisa menulis dan menerbitkan buku.

Tips membuat kerangka tulisan

Buat tulisan dengan bahasa yang unik dan mudah dipahami pembaca. Urutkan judul/bab/sub bab yang memiliki kaitan sehingga ketika dibaca dari satu bagian ke bagian saling melengkapi. Intinya, percaya diri dengan tulisan sendiri.

Tips memulai menulis

CLBK (coba, lakukan, budayakan, konsisten), percaya diri, mulailah apa adanya, apapun yang dituliskan adalah sebuah pencapaian yang luar biasa dan pasti ada penikmatnya sendiri. Tak ada tulisan yang tak bernilai, hanya menunggu jodohnya untuk dibaca.

Dalam dunia menulis, CLBK ala pak Roma adalah sesuatu yang harus dilakukan. CLBK membuat menulis lebih gampang dan mudah. CLBK a akan menghasilkan buku yang baik dan bisa diterbitkan. Ayo kita mulai CLBK ….


Jumat, 10 Februari 2023

Cara Mudah Menulis Buku Nonfiksi

 

Resume Keempatbelas

Kelas Menulis Gelombang Ke-28
Rabu, 08 Februari 2023

Tema: Konsep Buku Nonfiksi
Narasumber : Musiin, M.Pd.
Moderator : Yandri Novita Sari, S.Pd.

Menulis buku nonfiksi seperti biografi adalah salah satu impian yang ingin saya gapai, hanya saja saya tidak tahu dari mana harus memulai. Materi kali ini sangat menarik bagi saya, dan semoga ini membuka jalan agar bisa memulai menulis buku nonfiksi. Seperti yang disampaikan Bu Yandri bahwa kepintaran dalam mengemas isi buku tentu menjadi poin penting, bertujuan agar buku yang dihasilkan menjadi bermakna di setiap lembarannya. Jika kita berbicara tentang buku, maka penulis harus mengetahui bagaimana konsep buku yang akan ditulis. Selain memiliki tujuan dan manfaat, konsep buku juga menjadi strong why penulis agar karya buku yang sedang digarap bisa tuntas baik berupa buku fiksi maupun buku nonfiksi. Jadi bagi seorang penulis mengetahui konsep buku sangat penting karna berkaitan dengan pola yang akan memudahkan proses penulisan buku. Hal ini juga agar kita terhindar dari kemandekan ide atau bahasa kerennya terhindar dari virus writer's block.

Kamis, 09 Februari 2023

Menulis pantun berima, berirama

 
Resume Ketigabelas
Kelas Menulis Gelombang Ke-28
Senin, 06 Februari 2023

Tema: Kaidah Pantun
Narasumber : Miftahul Hadi, S.Pd.
Moderator : Dail Ma'ruf, M.Pd.

Pantun sering kita dengar ketika pembawa acara membuka atau menutup suatu acara dalam kegiatan resmi ataupun tidak resmi. Suasana akan mencair jika pembawa acara memulai kegiatan dengan berpantun. Tidak jarang juga sambutan-sambutan yang disampaikan oleh pejabat ataupun tokoh masyarakat dibuka dan ditutup dengan pantun.

Senin, 06 Februari 2023

Proofreading, baca lagi dong!

Resume Keduabelas

Kelas Menulis Gelombang Ke-28
Jum'at, 03 Februari 2023

Tema: Proofreading sebelum menerbitkan tulisan
Narasumber : Susanto, S.Pd.
Moderator : Helwiyah, S.Pd., M.M.

Bagi pemikir, buah fikirnya hanya akan bersemayam dalam fikiran jika tak diucapkan dan ditulis. Bagi pembicara, pembicaraannya hanya akan menguap lewat suara bila tak dituliskan. Bagi penulis, tulisannya akan tersimpan dalam catatan jika tak dipublikasikan. Bagi penulis media, tulisannya akan tertimpa materi tulisan lain jika tak dibukukan. Maka, ucapkan dan tuliskan yang ada dalam pikiran. Publikasikan dan bukukan apa yang sudah ditulis, agar banyak orang yang dapat membacanya. Abadi dalam bentuk kumpulan buah pikiran yang tertulis dan tersusun rapi dalam sebuah buku. (Helwiyah, 2023)

Ketika Pendidikan Karakter Pulang ke Rumah: Peran Orang Tua dalam Kegiatan Pramuka

Ketika seorang anak mengikuti kegiatan Pramuka, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan karakter mereka? Ap...

Resume Menulis